Tilang Polisi

Berikut adalah pengalaman seorang teman saat ditilang oleh polisi. Barangkali bisa dijadikan pelajaran.

Pengalaman di bawah ditulis dengan nama samaran dan tanpa ijin dari yang bersangkutan.

Begini ceritanya:

Kemarin sore, waktu lewat di jalan otista menuju matraman saya melakukan pelanggran lalu lintas, sehingga di STOP oleh seorang Polisi.
Seperti biasa, dengan gaya negosiasi polisi mau menilang saya.Ketika mau ditilang, saya ingat email yang sempat beredar tentang form tilang warna merah dan biru. Lalu terjadilah percakapan antara saya dan polisi. Kira-kira percakapannya sbagai berikut.

XYZ: “Silahkan Bapak tilang saya, tapi saya minta form warna biru.”.
Polisi: “Wah, form warna biru sudah tidak berlaku lagi. Itu cuma ada jaman dulu”.
XYZ: “Pak, saya ini bukan orang bodoh yang gak ngerti hukum. Saya tahu kalau form merah itu buat orang yang mau melakukan pembelaan di pengadilan. Sedang form biru jika kita memang mengakui pelanggaran
yang kita lakukan. Dan sekarang saya ngaku salah ke Bapak. Jadi saya minta ditilang dengan form biru.”.
Polisi: “Anda ini dapat informasi dari mana? Itu tidak benar”.
XYZ: “Kalau begitu Bapak bikin pernyataan tertulis kalau form biru sudah tidak berlaku baru saya mau ditilang pake form merah”.
Polisi: “Wah tidak bisa.”
XYZ: “Kalau begitu saya tidak mau ditilang”.

Sambil marah-marah polisi itu mengembalikan SIM+STNK saya.Gak jadi
ditilang deh, hehhehe.

Btw, ada yang tau gak yah detail tentang form merah dan biru ini.
Kenapa polisi tsb gak mau nilang saya pake form biru?

Potensi Bisnis Software Lokal US$ 250 Juta

Sumber: copy paste dari detik

Senin, 23/06/2008 17:35 WIB

Potensi Bisnis Software Lokal US$ 250 Juta
Ahmad Rouzni Noor II – detikinet

Jakarta – Nilai bisnis software lokal di Indonesia pada 2008 ini berpotensi naik 20% dari tahun lalu menjadi US$ 250 juta. Demikian proyeksi yang disampaikan Wakil Ketua Komite Tetap Telematika Kadin, Hidayat Tjokrodjojo.

Sedangkan, nilai bisnis software asing diperkirakannya juga relatif sama dengan lokal. “Sehingga tahun ini total nilai bisnis software di Indonesia bisa mencapai US$ 500 juta,” ujarnya di sela Rapat Koordinasi Nasional Telematika Kadin Indonesia, di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Senin (23//6/2008).

Hidayat menjelaskan, pertumbuhan lokal kebanyakan dari software tentang sistim penggajian yang nilainya berkisar Rp 10 juta hingga Rp 1 miliar, tergantung skala bisnis perusahaan pengguna dan tingkat kerumitan aplikasinya.

Sedangkan nilai US$ 250 juta untuk software aplikasi buatan asing, ditegaskan Hidayat belum termasuk untuk implementasi sistim operasi. “Selain aplikasi penggajian, software aplikasi lainnya yang sedang tinggi permintaannya ialah tentang kesehatan atau e-health,” tandasnya.

“BUBLE INFORMATION” MARKETING “PTS KONGLOMERAT” SUATU BENTUK PENIPUAN BARU

Sumber: EMAIL

Prof.Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD
Rektor ITS dan Tim Akreditasi PT-DIKTI

Majalah Globe Asia, sebuah majalah baru dengan positioning untuk
eksekutif bisnis yang diterbitkan oleh kelompok Lippo, pada edisi
Pebruari 2008 membuat pemeringkatan PTN dan PTS. Hasilnya adalah cukup
mengagetkan, dimana UPH (Universitas Pelita Harapan) , yang juga
dimiliki oleh kelompok Lippo, mengalahkan ranking PTN-PTN terkemuka
maupun PTS-PTS terkemuka di Indonesia. Sebagai contoh, total score UPH
(356) “diposisikan” mengalahkan 5 besar PTN seperti UGM (338), ITB
(296), IPB (283), UNAIR (279), dan ITS(258). UPH juga “diposisikan”
mengalahkan PTS terkemuka seperti TRISAKTI (263), ATMAJAYA (243), UNPAR
(230), dan PETRA (151).

Sebagai seorang akreditor Perguruan Tinggi yang telah bertahun-tahun
mengakreditasi kebanyakan PTN maupun PTS, termasuk pernah mengakreditasi
UPH dan Perguruan Tinggi lain sebagaimana yang disebutkan diatas, maka
saya merasa aneh dengan “pemosisian” ranking oleh Globe Asia tersebut.
Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan kriteria-kriteria yang meskipun
“mirip”dengan lembaga pemeringkat Internasional, tetapi member “bobot”
yang berbeda. Sebagai contoh, fasilitas kampus diberi bobot 16%,
sementara kualitas staff akademik (Dosen) hanya dibobot 9%. Lebih parah
lagi, kualitas riset hanya dibobot 7%. Keanehan kedua adalah sub
kriteria dari fasilitas kampus misalnya tidak memasukkan kapasitas
bandwidth sebagaimana standar akreditasi yang ada. Keanehan ketiga
adalah sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar
“apple to apple” (kesederajatan).

Bila kita menilik standar akreditasi, maka ada akreditasi dalam negeri
oleh DIKNAS (BAN PT), regional asia (Asia University Network, AUN),
maupun sistem akreditasi pemeringkatan dunia (THES, Jiao Tong, Webbo).
Akreditasi dalam negeri, regional, maupun dunia menggunakan
kriteria-kriteria dan KPI (Key Performance Indicator) yang “logis secara
akademis”. Artinya adalah bahwa kriteria tersebut (meskipun bervariasi)
adalah memang benar-benar akan menunjukkan “jaminan mutu” dari input,
proses, sarana pendukung, hingga outcome produknya. Tidak ada dari
kriteria dan sub kriteria yang hanya menunjukkan keunggulan “kemewahan
lifestyle” sebagaimana yang ingin ditonjolkan dalam hasil Globe Asia
Ranking. Demikian juga halnya dengan membandingkan antara Universitas
dengan Institut yang nature kriterianya pasti berbeda, misalnya di
Institut teknik manapun tidak ada yang mempunyai Fakultas Hukum dan
Fakultas Kedokteran sebagaimana sub kriteria ranking yang dibuat Globe Asia.

Dengan demikian, maka ranking yang dilakukan Globe Asia akan menjadi
suatu bentuk “penipuan” informasi yang bersifat “buble” kepada publik,
khususnya orang tua mahasiswa dari kalangan eksekutif sebagai target
pasar majalah tersebut. Penipuan ini menjadi meluas ketika dirilis
secara “tidak kritis” oleh koran Suara Pembaruan, 29 Januari 2008.

Mungkin fenomena seperti ini adalah akibat dari komersialisasi
pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, telah
menjadi komoditas yang “empuk” untuk menaikkan status sosial pemilik
hingga meraup keuntungan yang besar. Ditangan para pesulap bisnis, maka
pendidikan juga dikelola dengan image “Lifestyle” (gaya hidup), bukan
dengan image “Qualistyle” (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking
sesuai dengan “Strength” yang dimilikinya, sekaligus menyembunyikan
“Weakness” yang seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya adalah
bahwa segala cara akan dilakukan yang penting target meraih mahasiswa
selama periode marketing setiap awal tahun (Pebruari sampai Juli) mampu
dicapai dengan memuaskan.

Buble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH
tersebut secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS
yang dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran,
sistem Webbo Rank (Juli 2007) yang merupakan sistem akreditasi dunia
pada penekanan kriteria kerapihan manajemen data menempatkan PTS
terkenal di kawasan Timur, yaitu Universitas Petra dalam ranking ke 49
Se Asia Tenggara, UGM dan ITB adalah ranking ke-12 dan 13. Dalam
Webbo rank Juli 2007 itu tidak ada kelas ranking UPH, padahal webbo rank
adalah sistem dunia yang dianggap “paling sederhana”.

Oleh karena itu, maka sudah saatnya pemerintah sebagai regulator
bersama-sama dengan masyarakat untuk secara aktif mengawasi pola
komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan cara-cara tidak
“fair”dalam rangka merekrut mahasiswa. Hasil kerja dari Badan Akreditasi
Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian antara lain: tata
kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak
perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi
Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima
adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya
saing suatu Perguruan Tinggi.

Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam konsep
strategis HELTS DIKTI (Higher Education Long Term Strategy) haruslah
dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar, sehingga hasilnya bisa
dilihat salah satunya dengan criteria akreditasi yang logis secara
akademis, bukan logis secara pendekatan bisnis. (PS)

Gosip Tarif XL

Sumber: email

Coba simak deh apa bener ini gosip teh??
————————————————————————

Udah liat kan iklannya XL Bebas yang paling baru dengan tagline barunya
Tarif Paling Murah Ke Semua Operator.
Pas liat iklan ini siapapun pasti akan kepincut dan berpindah haluan ke
XL yg katanya XL Bebas paling murah di GSM, apalagi tarif ini semua
operator.

Tapi setelah saya cari referensi di website XL, akhirnya saya
menemukan sesuatu yang masih dan tetap dipertahankan sama XL perusahaan
besar yang masih melakukan tricky dan suka menipu pelanggan loyalnya.
Udah kita loyal
pada XL, kita bela-belain, ternyata ….. kita ditipu juga.

Penjelasannya seperti ini :
Jika kita telpon pake XL selama 3 menit :
Berarti di menit 0 sampai menit ke-2 (120 dtk), kita kena biaya
Rp.25/detik alias keseluruhan 2 menit pertama kena 25×120 dtk = Rp. 3.000.
Nah di menit ke-3 baru XL berlakukan tarif 0.1/dtk nya alias keseluruhan
menit ke-3 terakhir kita kena 0.1 x 60 = Rp 6.
Total Biaya Untuk 3 Menit Ke Beda operator Rp. 3000 + 6 = Rp. 3006
Nah kalau kita menelpon misalnya selama 6 menit, apa kita akan kena 3000
+ 6 + 6 + 6 +6 = Rp 3024 ???? Salah besar ….. kita membayarnya akan
seperti melompat-lompat :
Menit ke 1-2 kena : Rp. 3000
Menit ke-3 kena : Rp. 6
Menit ke 4-5 kena : Rp. 3000…. lageeee
Menit ke-6 kena : Rp. 6, dst…dst…dst …
Jadi untuk telpon 6 menit kenanya tetap mahal, yaitu 3000+6+3000+6 = Rp.
6012.

Sama aja bohong kali ya kalau hitungannya seperti ini, jangan ketipu
lagi deh.

Dan yang gak fair lagi di materi promosi XL ini tidak ada satupun yang
mengungkapkan kata-kata tersirat seperti hal hitungan diatas itu,
walaupun dengan sedikit quote kecil….kelee ya

Soekarno – Sejarah yang tak memihak

Posted by Iman Brotoseno under: SEJARAH; SOEKARNO .

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak
berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain
rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga
ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua
mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat
berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar
penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua
saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat
secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja,
mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan.

Continue reading “Soekarno – Sejarah yang tak memihak”

Peluang Bisnis Aplikasi Kamus di HP

Bagi yang tertarik untuk menjadi distributor aplikasi kamus di Hand Phone bisa hubungi email plugiecom@gmail.com
Yahoo Messenger: plugie@yahoo.com

Silahkan download brosur.

Disediakan GRATIS total kode aktifasi seharga Rp. 5.000.000,- bagi 100 distributor pertama.

Cocok bagi mereka yang memiliki usaha/kios berjualan voucher hand phone, toko handphone maupun yang ingin memiliki usaha sampingan.

Aplikasi kamus mudah digunakan dengan harga yang murah.

Sebagai gambaran umum bisnis ini adalah sebagai berikut.

1. Aplikasi kamus ini dikhususkan untuk dijalankan di Hand Phone yang mendukung Java dan nomor HP nya telah diaktifkan GPRS-nya

2. Setiap pelanggan yang menggunakan aplikasi ini diharuskan memasukkan kode aktifasi (semacam kode voucher hand phone) sebanyak 4 digit.

Setelah memasukkan kode aktifasi, pelanggan tersebut dapat menggunakan aplikasi kamus tersebut di HP nya selama sebulan.

Dan dapat memperpanjang dengan cara membeli kode aktifasi baru.

3. Anda sebagai distributor bertugas menjual kode aktifasi tersebut ke pelanggan yang berminat dan juga memberi tahu ke pelanggan yang berminat cara mendownload aplikasi tersebut ke hand phone mereka.

4. Satu buah kode aktifasi berharga RP. 1000, – (seribu rupiah). Ini harga pelanggan.

5. Aplikasi dapat di download GRATIS melalui Hand phone di http://wap.kirimpesan.com

6. Sebagai permulaan Anda akan diberikan 50 buah kode aktifasi secara gratis (Jika Anda termasuk 100 distributor pertama). Jadi jika Anda berhasil menjual 50 buah kode aktifasi tersebut Anda akan memperoleh Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah)

7. Untuk setiap penjualan kode aktifasi selanjutnya, pembagian hasilnya, Anda akan memperoleh 80% dan saya 20% dibayarkan setelah Anda berhasil menjual kode aktifasi tersebut ke pelanggan. Jadi Anda dapat berbisnis aplikasi kamus ini TANPA MODAL dan TANPA RESIKO.

8. Anda harus mencobanya terlebih dahulu dengan cara mendownload aplikasi tersebut ke HP Anda.

Maksudnya adalah supaya Anda sendiri mengerti bagaimana cara download ke Hand phone dan menggunakan aplikasi kamus tersebut di hand phone Anda

Seandainya Jakarta Seperti Ini

1. Di semua ruas jalan dibuat jalur bus way. Akan tetapi jalur ini dipergunakan bukan hanya untuk bus tapi untuk semua angkutan umum seperti mikrolet, metromini, bus kota, bus patas, kopaja dan angkot. Jadi angkutan – angkutan umum itu masuk ke jalur bus way dengan halte khusus. Tidak ada lagi yang berhenti sembarangan. Namanya mesti diganti bukan lagi bus way, tapi mungkin lebih baik menjadi ANGUM WAY (angkutan umum way)

2. Akibat semua ruas jalan ada ANGUM WAY, jalur kendaraan pribadi jadi sempit, akibatnya macet di mana – mana. Akhirnya para pengguna kendaraan pribadi dengan sangat terpaksa menggunakan ANGUM WAY. Selain lebih cepat tanpa macet, juga ada di mana – mana. Barangkali di depan rumahnya juga ada ANGUM WAY. jadi tidak perlu jalan terlalu jauh untuk mencapai halte ANGUM WAY. Halte ANGUM WAY dibuat nyaman, aman dan ada fasilitas hot spot gratis dan

Menjumlahkan Suatu Deret Angka

Suatu cerita mengenai Gauss seorang ahli matematika pada jaman dahulu kala. Pada saat di Sekolah Dasar, gurunya memberikan sebuah soal ke murid2 yang ada di kelas. Soalnya begini, berapa 1+2+3+4 dan seterusnya sampai 100. Belum sampai gurunya duduk di kursi guru, Gauss sudah menemukan cara menjumlahkan deret angka tersebut. Berikut adalah cara yang ditempuh untuk menentukan hasil dari penjumlahan deret tersebut :

Di tulisnya di papan tulis

1 2 3 .. 48 49 50
100 99 98 .. 53 52 51
—————————————————————————————- +
101 101 101 .. 101 101 101

Artinya hasil penjumlahan deret tersebut adalah 101 * 50 = 5050